Cerita 1 Ramadhan 2016 Piknik di Holy Family Hospital

Ini latepost lagi.. udah dari awal Ramadhan mau ditulis, tapi bundanya tersibukkan dengan rutinitas harian Ramadhan ditambah badan lemas dan mual dari kehamilan..

Awal Ramadhan ini, bunda terkenang 1 Ramadhan tahun lalu (2016). Tahun lalu pun, ayah bunda ambil 1 Ramadhan lebih awal satu hari dari Pakistan. Dan saat itu, Abang Alamgir harus masuk rumah sakit lantaran badan yang lemas tapi tidak jelas kenapanya. Dan hal ini sudah terjadi beberapa hari.

Ayah bunda kemudian memutuskan untuk membawa Abang Alamgir ke Holy Family Hospital, Rawalpindi. Awalnya kami diurus oleh dokter-dokter intern yang cuek2. Eh, kemudian datang dokter bercadar yang cukup serius memeriksa Abang, kemudian melihat kaki Abang yang warnanya pucat, dia mendiagnosa iron deficiency anemia dan Abang harus ditransfusikan darah. Setelah diinfus di ruang paed, Abang dan bunda kemudian dipindahkan ke ruang perawatan di lantai 1 sambil menanti dokter jaga dan darah Abang diambil untuk sample cek golongan darah dan untuk cek tingkat IDAnya. 

Bunda sempat berpikiran aneh-aneh. Jangan sampai ada darah Pakistani yang masuk ke tubuh Abang. Satu2nya yang golongan darahnya cocok ya hanya bunda. Jadi, harus bunda yang menjadi donor. Sayang ayah ndak bisa.

Setelah sample darah Abang dicek di ruang donor darah lantai 2, kemudian Abang dipindahkan ke HCU lantai 1. Menuju ruang HCU harus melewati lorong dan ruangan NICU tempat Abang diphototherapy untuk Jaundice tahun 2015 lalu. Bunda juga menginap di Holy Family Hospital selama 2 malam. Dan waktu itu pun pertengahan musim panas yang menggigit.

Hari itu, 1 Ramadhan 2016, temperatur Islamabad sangat tinggi, sedangkan ayah dan kakak harus ke Blue Area, jadi bunda harus naik turun, pindah pindah ruangan sambil membawa Abang. Dari lantai 1 ruang perawatan ke lantai 1 ruang HCU, lalu ke lantai 2 ruang donor darah kemudian kembali ke lantai dasar untuk mencari kantong darah di daerah sekitar rumah sakit, kemudian menunggu ayah dan akhirnya mendonor. Wah, bunda super lelah ditambah udara super panas dan lembab sehingga akhirnya memutuskan untuk membatalkan puasa. Ternyata ayah juga sudah membatalkan puasanya. 

Berhubung saat itu Pakistan belum memulai puasa Ramadhan, kantin rumah sakit masih buka. Jadi kami makan siang di sana sementara Abang ditinggal di HCU. Setelah makan dan membeli kantung darah, bunda kemudian ke ruang donor untuk mendonorkan darah setelah sebelumnya dicek golongan darah dahulu.

Setelah donor darah, kemudian darahnya bunda bawa ke HCU untuk ditransfusikan ke Abang. Transfusi baru dilakukan agak sore. Sakitkah abang ketika darahnya ditransfusi? Karena sepanjang transfusi Abang terus menangis. Alhamdulillah ndak begitu lama.

Dan bunda serta Abang harus menginap malam itu di ruang HCU. Satu tempat tidur untuk berempat bersama dengan pasien lain. Ibu dua dan anak dua. Wah, sabaaar sabaaaar… 

Bunda sangat bersyukur dengan kondisi Abdullah, dibandingkan pasien lain, Abang tentu termasuk sangat sehat. Ingat, ini HCU, berarti yang masuk ke sini adalah yang membutuhkan perawatan intensif. 

Ada anak yang terkena luka bakar, pneumonia, kelainan jantung, dan sebagainya yang membuat bunda sering menitikkan air mata. 😥 semoga Allah beri kesabaran untuk para keluarga ya.. ada yang sudah dua bulan di HCU karena prematur. Coba bayangkan rasanya menjadi ibu itu? Dua bulan di rumah sakit.. 

Ada pula yang bercerita bahwa dia sudah menikah lebih dari 10 tahun, dan ini anak pertamanya, tapi memiliki kelainan paru-paru. Betapa luar biasa kesabarannya.. 

Ada juga yang memiliki kelainan kulit, sehingga harus pakai kelambu sepanjang hari dan orangtuanya harus terus mengolesi badannya dengan salep khusus karena kulitnya terus mengelupas.. suara tangis anak mana yang tidak menyayat hati kalau sudah begitu? 😥 Di sini bunda jumpa para orangtua hebat.. thumbs up for all of them.

Esoknya setelah bertemu dokter, dan dicek kondisi Abang, Abang dipindahkan ke ruang sebelah HCU untuk perawatan yang agak kurang intensif (bunda lupa nama ruangannya). Dan di ruang ini, Abang dan bunda harus menginap semalam lagi dengan tempat tidur berbagi. Kali ini berbagi dengan Afghani. 

Bunda agak berkesan dengan sang gadis Afghani ini yang walaupun ndak bisa berbahasa Inggris berupaya untuk ramah dan belajar. Bunda agak terkejut karena ternyata anak ini tidak bersekolah, padahal kalau melihat postur tubuhnya sekitar usia SMP. Aktivitasnya hanya di madrasah saja. Jangan bayangkan bahwa madrasah di Pakistan sama seperti di tanh air ya.. Di Pakistan madrasah berarti pendidikan informal untuk yang mau fokus belajar agama atau tahfidzul Quran.
Yups.. Bunda dan abang dua malam di ruangan itu. Hari kedua di sana, abang mulai tersenyum lagi dan merangkak kesana kemari penasaran dengan apa isi meja semua orang. Well, itu indikator abang sudah sehat lagi. 🙂

Untuk makan, ndak perlu khawatir. Pagi dapat bubur nasi susu, siang dapat pulao, dan malam dapat roti. Yang Bunda repot karena hari kedua Romadhon itu Bunda mulai berpuasa lagi, sedangkan makanan pulao diberikan siang hari. Jadilah Bunda ambil untuk disimpan makan malam. Jangan kaget kalau kita di Pakistan tapi mendapati ada orang yang tidak puasa dan tidak sholat, well, sama saja seperti di tanah air.

Setelah abang menunjukkan respon lagi, tinggal tunggu informasi discharge dari dokter ya..

Dan alhamdulillah, Bunda dan abang boleh pulang.

Begitu lah cerita awal  Ramadhan 2016 yang harus Bunda dan abang jalani di Holy Family Hospital. Alhamdulillah tahun ini abang ndak perlu main ke HFH lagi. 

Keep healthy ya abang sholih Bunda..

AhB- Isb, Syawwal 1438 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s