Marhaban Ya Ramadhan – Agar Tidak Menjadi Orang yang Rugi

Sebuah kenikmatan yang sangat besar ketika kesehatan dan kesempatan masih bisa berada dalam dekapan bulan ampunan dan kasih sayang. Jiwa-jiwa beriman pada hari ini pasti telah merefleksikan kerinduan pada bulan Ramadhan untuk menyambutnya. Kerinduan itu terlihat dengan memperkuat ketaatan agar memasuki bulan suci dengan kesiapan yang matang.

Jika tidak fokus dan tidak spesifik dalam mencermati kedatangan bulan Ramadhan maka kita akan seperti tahun-tahun lalu. Bangun sahur, kerja, buka, tidur, dan bangun sudah sahur lagi tanpa ada kegiatan yang istimewa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika hal ini yang terjadi maka kita telah tergolong orang-orang yang telah kehilangan Ramadhan.

Agar lebih spesifik dan lebih fokus maka kita jadikan bulan Ramadhan sebagai bulan masuk surga sekeluarga. Misalnya, sekitar 15 menit sebelum berbuka puasa kita berdoa kepada Allah SWT. Karena pada waktu itu doa mustajab. Berbagi buka puasa dengan tetangga dan memberi makan kepada mereka.

Kemudian usahakan tidak usah memakai gadget saat berbuka puasa dan kalau perlu left dari grup-grup yang tidak bermanfaat agar bisa fokus kepada Allah SWT. Sehingga suami, istri dan seluruh keluarga bisa menikmati buka puasa bersama. Kalaupun gadget itu penting tapi tidak lebih penting dari al-Qur’an. Jadikan Ramadhan sebagai bulan al-Qur’an. Bulan Ramadhan saatnya kita berdua-duaan dengan Allah SWT.

Kemudian ajaklah keluarga untuk berpikir empati. Orang tua yang berhasil menanamkan empati kepada anaknya untuk membantu orang miskin dan mengajak lansung anaknya untuk berpikir tentang sedekah. Memberikan buka puasa setiap hari.

Berpikirlah untuk mengalokasikan sebagian gaji untuk memberi makan kepada berpuasa selama satu bulan. Kirim kepada orang miskin di sekitar kita khususnya keluarga terdekat. Agar kita tidak hanya mendapatkan satu pahala dari satu kebaikan kita sendiri. Akan lebih hebat jika dalam satu hari kita mendapatkan banyak pahala puasa karena memberikan buka untuk orang yang berpuasa.

Kemudian jangan pernah lupa untuk mendirikan shalat taraweh. Karena saat-saat itu adalah waktu yang paling tepat untuk syiar Ramadhan dan meramaikan masjid.

Belajar dari Ramadhan sebelumnya bahwa masjid biasanya ramai hanya di sepuluh pertama Ramadhan selebihnya keramaian berpindah ke mal-mal. Hal ini terjadi biasanya karena tekad di awal Ramadhan kurang kuat dan tidak berdoa kepada Allah SWT agar dikuatkan untuk beribadah di bulan itu.

Di bulan Ramadhan ini usahakan membuat agenda ibadah agar terus termotivasi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan puas hanya dengan mengerjakan ibadah wajib saja. Tetapi usahakan ibadah-ibadah sunnah jangan sampai terlewatkan.

Ketika sahur banyak orang tua yang tidak kreatif untuk menciptakan suasana sahur yang kondusif. Misalnya, saat membangunkan memakai cara-cara yang galak sehingga anak menjadi tidak nyaman saat sahur. Tidak memberikan kata-kata kasih sayang saat menyuruh makan sahur.

Hal yang perlu diketahui bahwa waktu paling tepat untuk istigfar itu adalah waktu sahur. Di setiap sepertiga malam Allah SWT turun dan berjanji kepada diri-Nya sendiri tidak akan kembali ke ‘arasy sebelum mengabulkan doa-doa orang yang berdoa pada sepertiga malam itu.

Sehingga termasuk hamba yang kufur ketika kita hanya menghabiskan malam dengan menonton bola dan acara-acara televisi yang tidak bermanfaat. Kemudian setelah shalat subuh berjamaah harus ada target untuk mendapatkan pahala umrah sekeluarga.

Orang-orang yang bermasalah dengan rumah tangganya, terlilit utang, dan masalah-masalah hidup lainnya, bacalah al-Qur’an sambil bertawassul dalam hati untuk meminta solusi dari Allah SWT. Istri yang sudah kehilangan rasa cinta terhadap suaminya akibat perilaku buruk, maka Ramadhan adalah momentum yang paling tepat untuk bertaubat dan intropeksi diri dan bertawasul lewat al-Qur’an. Karena yang terpenting adalah bagaimana mengharmonikan kembali hubungan rumah tangga lewat al-Qur’an.

Ada empat kerikulum yang menjadi fokus jika ingin menjadi masuk surga sekeluarga.

1. Suami harus menjadi pemimpin gerakan masuk surga sekeluarga.

2. Istri harus dibina dan disiapkan samping mempuyai kesadaran sebagai pendamping masuk surga sekeluarga. Jika suami tidak ada maka istri yang mengambil peran untuk membimbing anak-anaknya untuk masuk surga sekeluarga.

3. Anak harus dididik untuk menjadi jembatan masuk surga sekeluarga. Rebut waktu anak yang selama ini sibuk dengan kursus, sekolah, dan teman-temannya. Buat khalaqah dalam keluarga yang membahas tentang fikih puasa. Karena banyak di antara kita yang sudah 50 tahun berpuasa tapi tidak tamat fikih puasanya.

4. Orang tua dan mertua. Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk menularkan kebaikan kita kepada keluarga besar sehingga kakek dan nenek bisa menjadi tauladan masuk surge sekeluarga.

Kebersamaan ini kita tanamkan di dalamnya bahwa suami adalah pemimpin masuk surga sekeluarga, istri jadi pendamping, anak-anak dididik menjadi jembatan masuk surga sekeluarga, dan hubungan kepada orang tua dan mertua.

Kemudian ada empat konten penting yang harus ditanamkan kepada keluarga.

Pertama, Tauhid dan tidak menyekutukan Allah SWT. Untuk menanamkan tauhid ini ada empat kurikulum yang harus ditanamkan kepada anak.

1. Cinta kepada Allah SWT
2. Rasa takut kepada Allah SWT
3. Rasa harap kepada Allah SWT
4. Tawakkal kepada Allah SWT

Kuatkan akidah untuk menambah rasa cintanya kepada Allah SWT dan menguatkan rasa takut, harap, dan tawakkal kepada-Nya. Anak-anak itu rentang galau karena tidak mempunyai empat ilmu itu. Sehingga tugas utama seorang ayah adalah menanamkannya.

Kesalahan kita selama ini adalah strategi atau metodologi. Misalnya, anak shalat takut kepada Allah atau takut kepada orang tuanya? Jika anak shalat karena takut kepada orang tuanya berarti ayah salah didik karena orang tua menjadi pengganti Tuhan.

Kecermatan orang tua jangan menggunakan pendekatan power sehingga anak gagal fokus. Anak yang seharusnya shalat takut kepada Allah beralih menjadi takut kepada orang tua.

Obat frustasi bagi anak untuk menghadapi dinamika kehidupan yang begitu besar adalah keempat ilmu, cinta kepada Allah, rasa takut, harap, dan tawakkal kepada-Nya.

Kedua, berbakti kepada kedua orang tua. Libatkanlah anak-anak dalam setiap urusan orang tuanya. Kegiatan bersedekah libatkan mereka, tahajjud, shalat berjamaah, silaturahim, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Yang paling membahagiakan bagi seorang ayah adalah ketika anaknya sudah mampu meringankan pekerjaan ayahnya. Sebagaimana Ismail AS yang membantu Ibrahim untuk membangun ka’bah.

Ketiga, Muroqabatulloh (Merasa diawasi oleh Allah SWT). Perasaan yang ini sulit untuk ditanamkan di luar Ramadhan. Orang tua yang cerdas adalah yang memaksimalkan momentum Ramadhan untuk menanamkan hal ini kepada anak.

Misalnya, menjelaskan kepada anak bahwa di bulan Ramadhan itu pintu surga dibuka maka berbuat baiklah, pintu neraka ditutup maka beristigfarlah, dan setan dibelenggu sehingga dekatkanlah dirimu kepada Allah SWT.

Cobalah untuk khatam al-Qur’an, murojaah, nambah hafalan dan kegiatan lain yang berkaitan dengan al-Qur’an semata-mata ingin mendapatkan timbangan amal yang berat di akhirat kelak.

Beritahukan kepada anak bahwa ada dua kalimat yang ringan diucapkan tapi berat timbangannya di hadapan Allah SWT. Kalimat itu adalah subhanallah wa bihamdi dan subahanallahi al-adzim. Jika anak sudah terbiasa berdzikir karena mengharapkan timbangan berarti kita telah menanamkan nilai yang namanya muroqabatulloh.

Keempat, shalat. Semoga kita menjadi orang tua yang menjadi tauladan shalat bagi anak-anak dan keturunan kita menjadi generasi yang menjaga shalat.

Ramadhan adalah momentum yang penting untuk mendidik anak-anak untuk tidak meninggalkan shalat. Perkenalkan kepada anak apa itu shalat tahajjud, shalat dhuhah dan shalat-shalat sunnah lainnya. sehingga anak mampu menegakkan shalat diluar shalatnya. (aqlnews/Ditulis dari ceramah KH Bachtiar Nasir)

Link terkait:

http://www.swamedium.com/2017/04/27/marhaban-ya-ramadhan-bagian-1-persiapan-iman/

http://www.swamedium.com/2017/04/29/marhaban-ya-ramadhan-bagian-2-siapkan-ilmu/


http://www.swamedium.com/2017/04/29/marhaban-ya-ramadhan-bagian-3-esensi-puasa-ramadhan/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s