Ngoboy ke Murree 4-5 Januari 2017

Sekadar catatan ngoboy (backpackers) ke Murree 2017.

Islamabad menanti hujan selama 3 bulan terakhir. Sholat istisqo digelar dibanyak tempat. Bahkan diumumkan untuk dilaksanakan secara nasional di media televisi. Winter ini tanpa hujan menyebabkan udara dingin menjadi sangat berdebu dan kering. Diduga hal ini juga yang menyebabkan penyakit lebih mudah muncul dan menjangkit.

Alhamdulillah hari itu, Rabu, 4 Januari 2017 hujan mulai mengguyur Islamabad. Penantian yang cukup lama akhirnya tercapai juga. Harapan besar adalah bahwa hujan ini akan membawa jauh-jauh kuman penyakit yang menempel di debu. Selain itu…

Ada hujan di Islamabad, maka ada salju di Murree… Y aaaaayyyy!!! Salju tlah tiba.. salju tlah tiba… horeee horeee horeeee…

Hari itu juga kami memutuskan untuk segera pergi ke Murree. Kami siapkan baju ganti dan perbekalan plus informasi tempat menginap. Informasi didapat dari Ibnu Qosim yang pernah ngoboy tahun lalu, dari situs iklan penginapan, dan dari menelepon langsung.

Rabu sore hujan sudah agak reda. Ayah, Bunda, Aqila, dan Alamgir langsung ciao ba’da sholat Dzuhur ke Faizabad dan naik wagon tujuan Murree. Ongkos yang diminta adalah Rs. 300 untuk tiga kursi. Wagon itu cukup hangat, karena penumpangnya penuh dan jendela dalam kondisi tertutup. Bunda kewalahan karena kekurangan oksigen ditambah rute perjalanan yang berkelok-kelok. Tapi dalam hati selalu dikuatkan.. Ayooo.. perjalanan cuma sejam..

Setiap tanda kilometer, kami memandang ke luar jendela. Why??? No sign of tsalj? 10 km menuju Murree, kami sudah agak lemas. “Kalau nanti ndak ada salju, siap langsung pulang?”, kata ayah. “Siap,” jawab bunda sembari kepala makin pusing dan mabuk darat makin menjadi.

Tibalah kita di pertigaan Murree. Kami diminta untuk turun. Udara super dingin Murree langsung menyapa kami. “Alhamdulillah, nggak salah kostum,” pikir bunda, walaupun kepanasan di dalam wagon.

Kemudian kami mencari kendaraan dari pertigaan itu ke Mall Road. Mall Road adalah daerah wisata Murree yang banyak tempat makan dan penginapannya. Para supir taksi langsung mendatangi kami dan menawarkan jasanya. “Kalau kamu mau nginap di Hotel Al Qamar, naik taksi hanya Rs 100, tapi kalau tidak, Rs 400.” Wow.. ada sales hotel nih. Worth to try, kami pikir, Ndak ada salahnya. Apalagi kami ingin meyakinkan fasilitas yang ditawarkan. Yang penting tempatnya nyaman, ada air panas, dan ada heater.

Dengan taksi menuju hotel perjalanan sekitar 10-15 menit. Wah, ternyata Murree ramai sekali hari itu. Terlihat banyak Islamabadians dan sekitarnya yang menyengaja datang untuk melihat salju. Jujur, sejauh mata memandang yang kami lihat adalah salju-salju yang sudah mencair, agak kecewa. Tapi sedikit terhibur dengan pemandangan salju di depan kamar ketika kami inspeksi fasilitas hotel Al Qamar. Masih ada peluang jumpa salju awalan, tahun ini. Kamar hotelnya menuruni tangga beberapa kali, jadi kami sempat khawatir licin dan terpeleset karena saking banyaknya tetesan dan becekan salju yang mencair. Alhamdulillah tidak terpeleset.

Begitu kamar sudah dipesan dan dibayar untuk semalam, kami langsung membongkar barang bawaan dan menghangatkan diri di depan heater. Harga kamar kami Rs 2500 dengan fasilitas tempat tidur King size, tv, wifi, air hangat. Untuk mendapatkan fasilitas heater gas 6 jam, kami bayar lagi Rs 500. Malam itu kami sholat Maghrib dahulu baru kemudian jalan malam ke Mall Road.

Perjalanan dari hotel ke Mall Road utama sekitar 15 menit jalan kaki. Tapi tidak berasa lama karena sekeliling banyak penjual souvenir, buku, makanan, dan mainan anak. Mall road terlihat sangat kering. Tidak ada salju. Tapi banyak orang. Karena lapar, kami mampir untuk makan di Usmania dan memesan Nasi Goreng Special Usmania dengan Udang dan Ayam. Lumayan.. 😛 Kami pikir, kenapa tidak pesan Biryani saja sekalian.. 😛 Next time saja lah.. Kami tidak berlama-lama di Mall Road dan melanjutkan jalan lagi pulang ke hotel.

Sesampai di hotel, kami istirahat dan menikmati malam didalam selimut tebal.

Paginya, jelang Subuh, ayah menyampaikan bahwa ada hujan semalam yang menyebabkan salju mulai mengisi Murree lagi.. Yaaaayyyyy!!!

Ba’da Subuh, ketika sedang video call dengan Aki dan Unin untuk mengucapkan selamat milad unin, hujan salju turun lagi. Yaaaaayyyy…!! my first snow fall!!! Sooooo excited!!!

Udara saaaangaaaaaat dingin bahkan ketika membuka sedikit pintu kamar. Kami memutuskan untuk melambat-lambat keluar. Jam 8an kami keluar untuk mencari sarapan. Ternyata walaupun udara sangat dingin, daerah sekeliling hotel sudah sangat ramai. Kami kemudian mampir untuk makan paye dengan roghni, paratha dan chai. Harga makanan di hottel (tempat makan) di Murree totalnya bisa hampir dua kali lipat di hottel di Islamabad.

Selesai makan kami mencari spot foto dengan salju menjauhi Mall Road. Karena Mall Road lokasinya agak ke bawah, kami berjalan ke arah atas yang lebih banyak saljunya. Kami bermain salju sampai jam 10.30 kemudian memutuskan kembali ke hotel untuk bersiap-siap check out.

Berikut ini sekadar bukti bahwa Aqila dan Alamgir sudah ke salju… 😀

whatsapp-image-2017-01-05-at-16-41-11

Alamgir di sebuah atap rumah di Murree 050117

whatsapp-image-2017-01-05-at-17-09-44

Aqila dan Alamgir di Panggung Penampilan Seni di Murree 050117 

Kami sempatkan untuk membuat boneka salju yang ternyata susaaaaaaaaahhhh bingit. Ini salju kok nggak bisa dibentuk jadi bola sih.. Kayaknya harus bawa cetakan deh..

Next, sesampai di hotel kami langsung berkemas dan check out jam 12 siang. Kami berjalan pulang melewati jalur Mall Road, pasar, menuju Daewoo. Ternyata Daewoo full booked hari itu. Akhirnya kami jalan lagi ke bawah dan mendapati Bilal Daewoo Travel yang akan menuju Lahore via Rawalpindi. Yaaaayyyyy… Alhamdulillah bisa segera pulang dan segera istirahat.

Singkat cerita, kami diturunkan di pemberhentian Kaiynaat Travel Pirwadhai Rawalpindi dan langsung pulang dengan taksi sekitar 20 menit sampai di rumah I10.

Selama dua hari kami hampir ndak bisa melakukan apa-apa dan selama seminggu mabuk daratnya nggak hilang karena posisi duduk kami di bagian belakang bis Bilal Travel. Ayah sampai berkata, “ndak usah lagi kita naik Bilal. Mendingan wagon.” 😀

Well, beberapa catatan sepulang dari Murree adalah:

  • Kenali moda transportasi paling nyaman plus harganya
  • Cari tahu penginapan terkait harga, fasilitas, dan lokasinya dari tempat-tempat wisata dan tempat makan.
  • Waspada terhadap keamanan barang bawaan dan berhubung kami bawa anak-anak usia aktif, awasi barang-barang yang menempel pada mereka. Kami kehilangan sepatu Alamgir lagi hari itu. 😥
  • Enak juga kalau bawa rice cooker kecil. Jadi bisa masak di hotel dan ndak usah jajan. Untuk trip ini kami sengaja bawa termos kecil dan kopi/ susu sachet yang terjamin panasnya tahan lama. Tapi makanan yang kami bawa semuanya jadi sangat dingin dan tidak nikmat untuk dimakan.
  • Ndak usah bawa terlalu banyak baju ganti, cukup baju-baju yang tahan air (jas hujan). Karena walaupun kami mengalami hujan, itu adalah hujan salju bukan hujan air, jadi ndak akan kebasahan. Kebasahan dialami dari sepatu yang rembes air dari salju yang mencair. Badan dan kepala tidak kebasahan.
  • Bawa ekstra kaus kaki dan sarung tangan. Antisipasi kalau salju mencair dan membasahi kaki dan tangan.
  • Booking kendaraan yang nyaman di awal waktu dan segera konfirmasikan.

Alhamdulillah… Ndak penasaran lagi dengan salju deh… Aqila sudah… Alamgir sudah… Bunda sudah…. guling-guling di salju… :DDDDDD

We don’t actually know whether this snow would be our last snow in Islamabad or not. At least, we’ve already found you this year. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah..

 

Islamabad, 170117

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s