Harta dalam Rumah Tangga

1. Harta suami dan pengelolaannya.

Islam telah memberikan penjelasan masalah nafkah dan tanggung jawabnya dibebankan kepada seorang laki-laki. Nafkah yang menjadi beban tanggung jawab seorang laki-laki tidak hanya terbatas untuk anak dan istrinya saja, tetapi bisa jadi dalam kondisi tertentu seorang laki-laki juga harus menanggung nafkah ibu kandung, saudari perempuan ataupun keponakan yang miskin dan memiliki hubungan perwalian dengannya, sebagaimana dalam surat  24 : 31 Dengan demikian seorang istri harus menyadari bagaimana kondisi keluarga suami khususnya terkait kondisi kemiskinan para perempuan yang menjadi mahrom dan yang menjadi tanggung jawab suami sebagai peralihan perwalian atas para perempuan tersebut. Hak istri dari harta suami hanya sebagian saja bukan 100 % harta suami adalah milik istri, sebagaimana tercantum dalam surat 4 : 34.

Dengan demikian perlu pengetahuan agama yang lebih luas sehingga setiap istri bisa berlapang dada berbagi harta suami dengan para perempuan yg menjadi mahrom suaminya. Cukuplah bagi kita kisah alqomah seorang sosok suami yang takluk dengan istri sehingga membuat alqomah berani menelantarkan ibu kandungnya hanya karena ketidak sudian istri berbagi sedikit harta suami dengan ibu mertuanya. Pada akhirnya akibat durhakanya Alqomah kepada ibunya membuat alqomah sulit menghadapi sakaratul maut karena Ridho Alloh swt diatas. Ridho ibunya.

2. Legalitas harta istri dan hak pengelolaannya.

Islam adalah agama yang adil bagi umatnya. Dalam masalah harta Islam juga mengakui legalitas harta perempuan dan Islam memberikan hak penuh kepada perempuan tersebut untuk mengelola sepenuhnya. Legalitas harta perempuan bisa jadi di dapati dari orangtua nya baik hibah ataupun

warisan seperti dalam surat 4 : 7. Begitupun legalitas kepemilikan harta perempuan bisa jadi dari suaminya seperti dalam surat 4 : 4. Harta yang diakui kepemilikannya bagi perempuan islam memberikan hak penuh bagi perempuan untuk mengelolanya sendiri, sebagaimana kisah yang pernah terjadi pada istrinya ibnu mas’ud yang memiliki wirausaha sendiri dan dia kelola hasil dari usahanya ini untuk menafkahi keluarganya, suaminya dan untuk jihad fi sabilillah tanpa campur tangan suaminya , ternyata apa yang dilakukan zainab (istrinya ibnu masud) mendapatkan apresiasi dari Rosul dengan sabdanya ” bagi dia (zainab) atas harta yang dia keluarkan akan mendapatkan 2 pahala, pahala sedekah dan pahala silaturahim. Jadi pada hakekatnya istri mengelola harta sendiri sesuai manajemen keuangan yg di buatnya tanpa campur tangan suami tidak lah di larang dalam Islam, hanya saja di karenakan suami istri sudah menjadi satu kesatuan dan kekuatan alangkan baiknya di lakukan dengan melibatkan komunikasi dan sharing dengan suami agar tidak terkesan individual dalam keluarga. Bukankah hasil musyawarah dan komunikasi yang efektif atas dasar cinta kasih akan menumbuhkan rasa saling peduli dan memiliki.

3.  Kewajiban dakwah Istri atas pelaksanaan  ibadah suami.

Dalam surat 9 : 70-71, Alloh swt sudah menetapkan bahwa menuju kesempurnaan dalam ibadah dan ketaatan perlu peran dan kerja sama dalam keluarga (antara suami dan istri / pria dan wanita). Tugas seorang da’iyah hanyalah mengajak dengan cara yang terbaik bukan menggurui dan menghakimi. Jika jalan dakwah dengan cinta ini sudah terpenuhi maka hasil dan perubahan prilaku orang yg kita dakwahi bukanlah kuasa kita, hanya saja kita bantu doa kepada Alloh swt agar Alloh swt membukakan pintu hidayah kepada beliau yg kita cintai karena Alloh swt.

4. Pilihan ketika hilangnya sakinah mawaddah wa rohmah dalam Rumah Tangga.

Ikrar dan janji kita dalam membangun keluarga adalah menampakkan tanda-tanda Kekuasan Alloh swt dengan terjalinnya ketenangan, saling cinta daan kasih antara suami dan istri, sebagaimana surat 30 : 21. Jadi jika kita kehilangan jalinan sakinah, mawadah wa rohmah dalam rumahtangga berarti kita telah mengkhianati perjanjian dengan Alloh swt. Dengan demikian kita berkewajiban untuk mengislah (memperbaiki) kondisi tersebut dengan usaha mencari solusi agar kembali terwujud jalinan tersebut, setiap pasangan berkewajiban di hari selanjutnya dalam rumahtangga harus memiliki kesabaran menerima kekurangan pasangannya dan bersyukur atas kelebihan pasangannya agar masalah tidak kembali terjadi. Namun jika diantara mereka berdua (suami/istri) sudah tidak sanggup melaksanakan ikrar kesetiaan, bakti dan ibadah dalam rumahtangga maka pilihan yang lain adalah perceraian, meskipun ini adalah pilihan yang di benci Alloh

Wallahu a’lam bish-shawab

Wassalamu alaikum wr.wb.

Nur Hamidah, Lc, MA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s