Dear kabayyi2 (aaBoy)

Dear kabayyi 2..

5 Desember 2014

Ayah bunda memastikan kalau kabayyi hadir di perut bunda. Senang sekali ayah dan bunda, jadinya yang ditunggu-tunggu hadir juga, yaitu adik untuk kakak Aqila.

Alhamdulillah.. Semoga ayah bunda bisa menjaga amanah ini dengan baik.

Due date kabayyi2 rencananya sekitar tanggal 5 Agustus 2015. Semoga selalu sehat ya sayang..

19 Desember 2014

Sekarang sudah di minggu ke-7 kehamilan kabayyi2. Beberapa pekan ini bunda selalu merasa mual kalau perut dalam keadaan lapar.

Berbeda dengan waktu hamil kakak Aqila yang bunda dapat morning sickness dan hampir setiap hari vomitting sampai dengan 3 bulan kehamilan. Kalau hamil kabayyi2 ini, bunda nggak dapat morning sickness, tapi pokoknya nggak boleh kosong perutnya. Harus makan tepat waktu dan menyiapkan cemilan yang cukup.

Bagaimana dengan bau-bauan tertentu?

Waktu hamil kakak Aqila, bunda paling nggak bisa nyium bau susu kerbau yang lagi dipanaskan. Kakak tahu? Orang Pakistan senang sekali minum chai dengan susu kerbau karena rasa yang gurih dan baunya yang khas. Nah, waktu itu bunda tinggal sama bu Ibnu di G8/1 selama ayah pergi haji (2011 winter) dan orang atas selalu masak chai di pagi dan sore hari.. Aduuuuuuhhh.. Nggak banget deh..

Mabok bau lainnya adalah bau dapur yang di hidung bunda sangat tidak menyenangkan. Hiiih.. Ngebayanginnya aja bikin bergidig..

Sedangkan ketika hamil kabayyi2, ayah bunda sedang memulai produksi risoles untuk ditaruh di kampus Preston. Dan ajaibnya.. Bunda mabok ragout!! Nggak banget lagi, kan..?

Yah.. Semoga mabok bau ini nggak lama-lama ya, kabayyi2..

Oya, kakak Amiranya Mangabey dan Ateu Sarrah udah mulai nendang-nendang dan nggak bisa diam lho..

Bunda menanti kabayyi2 juga mulai aktif ya sayang..

Kalau dari babycenter, kabayyi2 sekarang sudah mulai ada detak jantung dan jari-jari kaki serta tangan mulai ada bentuknya.

Semoga sehat ya sayang…

14 Januari 2015

– Bunda periksa kandungan akhirnya hari Sabtu, 10 Januari 2015 bareng ‘ammah Insani. Menanti.. Menanti.. Menanti.. Lamaaa sekali menanti giliran bunda. Badan letih karena menanti terus. Sampai rumah langsung masak ayam panggan-panggangan plus nasi uduk. Dan lanjut lu. Nikmati aja deuuuh…

– Vomit kedua dalam hamil kabayyi2 yaitu tgl 11 Januari 2015. Sedihnya adalah karena yang keluar coto makassar buatannya ‘amu Ibnu Qosim dan ‘amu Hiz. Coto itu yang bunda kangen-kangenin beberapa pekan belakangan. Begitu makan, eh, malamnya langsung keluar. Sedih… πŸ˜₯

– Di rumah lagi sedih nih, kabayyi2.. Ayah bunda lagi suliiiit rizqinya. Semoga Allah mudahkan lagi. Alhamdulillah masih bisa makan dan minum. Terus kepikiran rumah yang berantakan dan tesis yang nggak selesai-selesai. Bagaimana mulainya ya..? πŸ˜₯

yaa robbiii.. Sahhil umuronaa..

17 April 2015

Kakak Aqila ulang tahun hari ini. Bunda upayain bisa kirim hadiah dari kemarin-kemarin, ternyata nggak memungkinkan. Sedihnya… Bunda nangis aja lihat video kakak Aqila…

23 April 2015

– Jumat kemarin (170415) sudah cek kabayyi lagi, week 24+. Bunda sekalian tanya-tanya sama dokternya. Beberapa hal terkait rencana bunda melahirkan kabayyi2 secara normal, istilahnya bunda dapat dari ‘ammah Ima, yaitu VBAC, vaginal birth after caesarian. Langsung dokternya catat di laporan bunda: “patient want to do VBAC”.

Dokternya juga cukup enak menjelaskan bahwa untuk VBAC benar-benar harus diniatkan dan banyak jalan bundanya. Patokannya adalah due date atau HPL yaitu 4 Agustus 2015. Dokternya bilang, kami nggak akan melakukan induksi, karena perutmu sudah nggak normal (pernah sesar) dan induksi malah akan menambah rasa sakit. Intinya, begitu tanggal 4 Agustus terlewati, maka kita akan langsung menjadwalkan untuk sesar yang kedua… Huhuhu.. Agak sedih bundanya. Mudah-mudahan bisa normal yaaa kabayyi2… Bismillah!!!

Bunda juga tanya soal kemungkinan ketuban pecah dini (KPD) lagi. Kata dokternya, kalau bunda punya keluaran rutin (vaginal discharge) maka itu yang bisa bikin infeksi dan itu yang mungkin menyebabkan KPD lagi. Akhirnya diceklah sama dokternya, dan ternyata ada VD. Dokternya kasih resep salep untuk bunda.

Jumat kemarin itu juga bunda disuntik tetanus yang pertama.

7 Juli 2015

Hari ini mau buka puasa bersama teman2 banaat Indinesia yang tersisa di Islamabad dan teman2 banaat Thailand. Buna dibantu ayah udah sibuk persiapan dari pagi, masak kerupuk, cincau, sambal, menguliti wortel dan ayah sibuk mondar-mandir melengkapi kebutuhan acara dan bebenah ruang depan.

Wuaah, pokoknya memang sibuk abish.. Karena semua disiapkan hari itu juga supaya fresh. Jam 15an ‘ammah Rahmah, ‘ammah Insani dan ‘ammah Farhana datang ke rumah ikut seksi sibuk. Wuaaaah… Semua bagi-bagi tugas.

Jam 18.30an teman2 Thailand sudah berdatangan dengan membawa buah tangan juga.

Menu hari itu:

Busha dengan kolak blewah pisang dan bronies mini plus bakwan

Makan malam dengan capcay dan ayam asam manis plus krupuk dan sambal secara botram pinjam nampan-nampan ‘ammah Ebira.

Penutup dengan es buah isi melon, cincau, dan timun suri.

Mantap jaya, kenyaaaaaang…

Teman2 Thailand juga bantu bebersih cucian piring. Jadi bisa dibilang 60% kembali rapi. 20% dirapikan ‘ammah Insani dan Farhana, dan sisanya untuk bunda 20% barang-barang yang besar-besar. πŸ˜›

Bunda tunda bebenah untuk besok, karena udah capek maksimal.

8 Juli 2015

Seperti biasa di Romadhon tahun ini, seharusnya sahur jam 2.30an. Tapi karena bunda dan ayah terlalu lelah, akhirnya baru bangun jelang azan subuh. Bunda dan ayah hanya sempat sahur dengan air putih. Kemudian kita sholat subuh dan tidur lagi.

Sebangun tidur, jam 7.30, bunda agak terkejut. Ada ketukan kecil di vagina bunda sekaligus air yang mengalir. Bunda langsung bangunkan ayah dan berkata, ‘a, ketubannya pecah lagi.’ teng tong………….

Ayah langsung mulai agak panik. Bunda coba tenangkan dengan mendiktekan yang perlu disiapkan untuk dibawa ke rumah sakit. Hospital bag sudah bunda siapkan untuk baju kabayyi2 dan kakak Aqila. Jadi tinggal ditambah baju ganti untuk bunda, yang ada kancing depannya.

Kemudian ayah mempersiapkan kakak Aqila, mengabari ‘amu Abdurrahman dan ‘amu Qowiy.

Jam 9. Taksi dipanggil. Bunda, dan ‘ammah Farhana plus kakak Aqila naik taksi ke Shifa Hospital, yang lain naik motor. Sampai di Shifa, langsung cari labor room di A1.

Dan arsip bunda langsung diambil begitu suster tahu bahwa ini kasus ketuban pecah.

Berbeda dengan kakak Aqila yang kontraksinya tidak begitu tajam, kontraksi kabayyi2 langsung terasa sekitar jam 10an. Terasa tajam dan menusuk perut. Dr Mehwish yang menangani bunda, menanyakan kepastian mau melakukan VBAC. Bunda dengan mantap mengatakan ‘ya, VBAC, in syaaaLlah..’

Dr Mehwish meng’OK’kan. Toh, posisi kabayyi2 sudah cephalical, alias kepala di bawah (sudah pada posisinya) dan bunda sudah mengalami kontraksi, alias tidak perlu diinduksi. Bisa dibilang syarat utama VBAC sudah tersedia. Bunda juga banyak baca soal VBAC sebelumnya dan paham risikonya.

Kontraksi yang bunda alami, benar-benar sangat terasa. Waaaaahhhh ndak tahaaaaan.. ‘Ammah Ebira yang kemudian datang dan turut menemani, meminta bunda untuk mengatur nafas. ‘Tariiiiik… Keluarkan.’

Tiba-tiba, jam 11an, dr Mehwish datang dengan wajah yang serius. ‘Ahyani, there is a problem’, waaahhhh… Mulai deh.. Kata pikiranku..

‘Baiklah, saya sudah baca arsip confidential sesar kamu yang pertama. Ternyata anak pertama kamu lahir di usia gestasi 32+ minggu ya? Dan dalam proses sesar, posisi jahitan uterus agak tinggi, kalau kita tetap memaksakan VBAC, dan uterus kamu robek, hal ini bisa menyebabkan 3 hal:

1. Bayi kamu meninggal

2. Kamu dalam kondisi kritis yang harus di ICU

3. Rahim kamu diangkat.’

Saya tanya, berapa persen risiko itu?

Dr menjawab, ‘20%, tapi risiko itu tetap ada.’

Jengjong… Langsunglah tangisan sedih muncul… Diantara yang terpikir kalau harus sesar lagi, tentu adalah keterbatasan diri sebagai seorang istri dan ibu.

Saat itu, dokter memberi kesempatan untuk mengambil keputusan. Dan karena kontraksi makin dekat waktu antaranya, dokter berkeras untuk menyegerakan mengambil keputusan. VBAC dengan risiko tersebut atau langsung sesar?

Ayah minta waktu setelah sholat dzuhur. Dr Mehwish sudah mulai ndak sabaran, plus kontraksi kuat yang bunda alami. Akhirnya diputuskan, VBAC dahulu tetap dilakukan, baru jika ada apa-apa, langsung sesar. Dr Mehwish seperti pasrah, ‘baiklah, tapi semua risiko adalah tanggung jawab kamu ya..’, akhirnya jam 14.00 mulai diperiksa berapa bukaan bunda, ketika diperiksa itulah, asisten dr Mehwish langsung memanggil dr Mehwish, memperlihatkan pendarahan di tampon yang bunda pakai.

Jeng jong lagi…

‘Bukaan 2.5,’ kata asisten dr Mehwish.

Tapi ada contraction bleeding, tandanya rahim bunda sudah terluka. Akhirnya langsung dr Mehwish bilang, ‘Nggak ada waktu lagi, kamu harus sesar sekarang juga.’ Yups… Akhirnya bunda disiapkan untuk sesar. Jam 14.30 bunda dibawa ke ruang persiapan sesar setelah sebelumnya dikasih obat anti muntah yang malah bikin bunda muntah. Saat itu kontraksi masih berasa dengan tajam.

Di ruang persiapan sesar semua orang bergerak dengan santai. Ada yang ngobrol, ada yang sedang mengisi form. Seorang dokter senior berpakaian biru dongker datang menghampiri bunda. ‘Hello, nama saya dr. L (lupa), saya adalah penanggungjawab anestesi dalam operasi sesarmu hari ini.’ Dan dr anestesi ini kemudian menanyakan riwayat anestesi sesar sebelumnya. Yang bunda jawab bahwa pada sesar sebelumnya saya dibius lokal tapi masih berasa, jadi akhirnya dibius total. Dr anestesi ini meyakinkan bahwa bius lokal hari ini akan berhasil.

Bunda masih berasa kontraksi bahkan saat dibawa ke ruang operasi pada jam 15. Dalam perjalanan asisten dokter anestesi mengatakan, ‘kontraksinya akan hilang rasa setelah kamu dibius, tenang saja.’

Bunda kemudian dipindahkan dari tempat tidur dorong ke meja operasi. Baju diganti dengan hijab untuk operasi. Penghalang antara dada dan perut dipasang. Tangan dan kaki diposisikan. Lampu operasi yang bulat besar-besar pun diarahkan ke perut bunda.

Asisten dr anestesi mulai melakukan ritualnya melalui tulang belakang bunda. Nggak berapa lama kaki bunda sudah merasa baal. Tidak bisa digerakkan lagi. Kemudian naik rasa baalnya ke bagian atas, ke paha dan perut. Ketika sudah yakin bahwa bunda sudah kebal sampai di perut. Maka operasi sesar dimulai..

Bunda terus membaca ayat-ayat terakhir surah Al Baqarah. Mudahkan yaa Allah.. Lancarkan.. Sehatkan.. Takdirkan dia.. Sekitar 45 menit kemudian, bunda menanti-nanti kapan bayinya akan dikeluarkan. Sejurus kemudian suara tangis bayi terdengar. Sesosok makhluk imut dikeluarkan dari rahim bunda dan langsung dibawa ke ruang lain untuk dibersihkan. Asisten dr anestesi (yang ganteng itu) kemudian mengabarkan, ‘congratulation, baby boy.’ Waaaah bunda bersyukur, ‘Alhamdulillah..’ Sambil terharu.

Bunda dan ayah tidak menanti-nanti anak laki atau perempuan secara spesifik. Kami menerima saja. Semoga sehat. Walaupun ada harapan ingin anak laki-laki untuk jadi cucu laki-laki pertama dari keluarga Said/ Ade Muslih maupun dari keluarga Sigit Mulyono/ Ahmad Muslihat.

Kemudian susternya membawakan kabayyi2 yang sudah dibersihkan, ‘mubarak.. Baby boy.’ Bunda menjawab, maa syaaaaLlah.. Thank you.. Alhamdulillah.. :’)

It was a very touching moment. Alhamdulillah. Bunda sudah lega sekali. Kabayyi2 yang kemudian dipanggil AaBoy langsung dibawa ke NICU untuk diobservasi. Sekarang tinggal tunggu diselesaikannya proses operasi kemudian ke kamar recovery. Can’t wait…….. πŸ™‚

Sekitar jam 17 operasi selesai dan bunda dibawa lagi ke ruang persiapan operasi. Dr anestesi menanyakan kepuasan bunda. Kemudian dia bilang, ‘kamu akan diobservasi dulu kemudian 10 menit lagi akan dibawa ke ruang perawatan (ward).’ Aaaahhhh leganyaaaa…

Yups.. Setelah itu bunda dirawat di ruang perawatan dan teman-teman bergantian menunggui bunda setiap hari. AaBoy ternyata tidak perlu dirawat di NICU, jadi langsung menemani bunda sampai waktunya pulang dua hari kemudian.

Kabayyi2 @NICU Holy Family Hospital Rawalpindi

Hari selasa sepekan setelah lahir aaboy, terjadwalkan untuk vaksinasi. Tapi kok ternyata kuning (jaundice) aaboy. Akhirnya disuruh untuk periksa darah di lab Shifa int’l. Setelah 3 jam hasilnya keluar dan bilirubin aaboy ternyata cukup tinggi. Dokter menyarankan untuk segera memasukkan aaboy ke NICU untuk disinar/ phototherapy. Tapi begitu tahu biaya permalamny antara 1,5-2 juta rupiah, ayah langsung lemas. Karena sudah sore, ayah memutuskan untuk kembali esok pagi dan mendaftarkan aaboy ke Shifa alfalahi untuk keringanan biaya NICU. Sore itu juga ayah bunda dan kakak bawa aaboy ke dr Ismail untuk konsultasi. Dr Ismail bilang memang bilirubin aaboycukup tinggi, tapiorang asia timur dan tenggara 30%nya memang mengalami jaundice. Tenang saja, kata dr Ismail. Tapi ayah dan bunda nggak tenang deh…

Esoknya aaboy didaftarkan ke Shifa Al falahi dan dicek lagi. Dokter langsung memutuskan untuk dimasukkan ke NICU, tapi ternyata jatah untuk alfalahi sedang tidak ada hari itu. Ayah langsung menghubungi teman-teman untuk meminta tolong diperiksakan PIMS Hosp dan Poliklinik tentang fasilitas phototeraphy. Ternyata penuh semua.

Ayah dan bunda memutuskan untuk bagaimanapun bawa dulu aaboy ke Holy Family Hosp di Rawalpindi. Ayah naik motor, bunda aaboy kakak naik taksi sampai di sana. Huehuehue… Bangunannya ada yang berhiaskan salib. Sepertinya ini dahulunya adalah daerah aktivitas kristen, tapi sekarang sudah jadi rumah sakit milik pemerintah.

Aaboy langsung diperiksa di bagian anak, dr langsung ambil darah aaboy minta dibawakan ke citilab dan aaboy langsung didaftarkan ke NICU. Sempat agak ditolak karena tidak punya ID Pakistan, tapi alhamdulillah langsung dieksekusi.

Hari itu panas dan masih Romadhon. ‘Amu Abdurrahman Qosim datang dan menemani kami. Sore itu agak bingung. Perlu cari penginapan supaya bisa menunggui dengan nyaman. Tapi penginapan di sekitar rumab sakit menolak menerima foreigners. Karena khawatir ada razia dadakan untuk foreigners. Kami menduga ini masalah keamanan. Bingungnya adalah karena bunda harus menyusui aaboy setiap 3 jam di waktu feeding yang ditentukan. Ibu-ibu yang menyusui juga menunggui anak-anaknya yang ada di NICU sambil menghamparkan alas seadanya di hall dekat ruang NICU.

Akhirnya jam 10 malam lebih bunda memutuskan ayah dan kakak untuk pulang saja. Kasihan. Lelah semuanya. Bunda kan nggak puasa, jadi lebih mudah dan lebih kuat untuk berjaga. Yups.. Akhirnya bunda ikut nimbrung bareng ibu-ibu itu. Masih agak bingung dengan jadwal feeding, bunda terbangun pada jam-jam yang ternyata tidak perlu untuk feeding. Seru juga suasananya. Begitu jam feeding, ibu-ibu mengantri dan dengan tertib masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan bayi dalam inkubator. Ada tiga ruangan, tapi perlakuannya berbeda semua. Dan ruang photo therapy ada di bagian agak dalam.

Tak apalah berbagi tempat tidur dengan bayi lain ya aaboy.. Bunda sempat khawatir salah ambil bayi lhooo… πŸ˜€

Tapi hidungmu ndak ada yang menyamai, sayang.. Ini adalah sebuah negara dengan potensi kemancungan 99%. πŸ˜€

Waktu menyusui hanya 15 menit itupun ditambah kita ingin mengganti diaper bayi dan kadang harus dibersihkan. Jadi waktu serasa begitu cepat. Apalagi ditambah chacha dan aunty satpam yang meneriaki untuk segera keluar. Hwahwahwa.. Membayangkan waktu itu jadi tergeli-geli sendiri. Pagi harinya bunda berbasahkan keringat, dan gigitan nyamuk semalamnya masih terngiang-ngiang di kulit. Bunda tidak kuat kalau untuk seharian berikutnya hanya berganti pakaian saja. Akhirnya jeda feeding time jam 6.30 sampai 9.30 bunda putuskan untuk pulang dan bebersih. Sekaligus menyimpan barang yang tidak diperlukan dan membawa perbekalan berikutnya.

Ayah dan kakak masih tidur begitu bunda pulang. Tapi alhamdulillah bisa masuk. Dan bunda langsung bersiap-siap sambil ayah bantu mempersiapkan perbekalan. Bunda kembali ke rumah sakit dengan taksi dan tepat waktu minum asinya aaboy. Begitu aktivitasnya sampai malam berikutnya. Dan darah aaboy selalu dicek bilirubinnya setiap hari. Dan alhamdulillah ada perkembangan yang cukup baik.

Akhirnya pagi hari jumat itu dr Raheela yang berjaga memutuskan aaboy untuk pulang pagi itu juga. Bunda senang sekali. Dan segera menghubungi ayah yang ternyata tidak nyambung. Akhirnya bunda minta tolong ‘amu Eris untuk mengabari ayah. Pagi itu gerimis. Alhamdulillah sejuk di musim panas ini. Dan hari itu adalah 1 Syawwal di Saudi. Kami merayakan ied dengan pulangnya aaboy ke rumah. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Ayah membayarkan fitrah ke supir taksi yang mengantar, karena ketika mau dibayarkan ke panitia zakat di masjid di area rumah sakit, tidak ada yang nampak.

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Ied kali itu.. Ada lega, bahagia dan rizqi hujan.

Kakak Aqila’s jealousy and Abdullah’s day

Aqiqah Abdullah

This week starts chuckling and understanding that someone is talking at him.. (130915)

Jatuh sendiri (121015)

Sudah 3 bulan usia dedekabayyi2 aaboy abdullah alamgir sajd ini. Alhamdulillah.. Overall perkembangan sehat luar biasa. 2-3 hari ini aaboy sudah membalik badan sendiri ke arah kiri. Nah ketika sedang menyiapkan untuk mandi sorenya, aaboy bunda simpan agak di ujung tempat tidur dengan bagian kepala ada di agak pinggir dan bagian kaki di tengah tempat tidur. Beberapa kali dicek aaboy nggak berpindah. Jadi bunda masih agak santai sembari melakukan ini itu.

Tiba-tiba…

Dug.. Whooooot? Aaboy sudah ada di bawah dengan posisi tengkurap dan menangis begitu bunda langsung angkat. Jarak permukaan kasur dengan lantai sekitar 15-20 cm. Wihihihihih,,, antara kasihan dan kagum. Berarti aaboy sudah benar-benar bisa membalik badan sendiri. Tangisnya juga nggak lama. Begitu bunda bawa ke kamar sambil ditenangkan, aaboy kemudian sudah senyum-senyum lagi.

Oya, aaboy juga sudah merespon dengan suara dan tawanya kalau diajak ngobrol.. My boy.. Keep healthy.. Ganteng sholih bunda..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s