Dear Kakak Aqila (03) Catatan Ayah

Hari Pertama, Selasa 17 April 2012

Kak, hari itu Bunda hanya tertidur seperti yang kelelahan selepas begadang. Entah apa yang ada dipikirnya, apa terpikir UAS-nya, atau lelah karena perpindahan dari tiga rumah dalam tempo satu minggu. Ayah ndak tega membangunkan dan hanya mengingatkan jadwal kuliahnya Bunda.

Jam 10.10 am Ayah coba ingatkan bunda sembari mengelus Kakak yang masih dalam Rahim Bunda dan menyapa, “Apa kabar kakak?” dalam hati Ayah menambahkan  semoga posisi kakak segera berbalik dalam posisi normal.

Ayah pun ingatkan Bunda tentang nasihat-nesihat dokter dan para orang tua untuk melakukan aktivitas yang mendorong kelancaran kelahiran normal termasuk menormalkan posisi kakak dalam Rahim.

Ayah pun segera menyapu lantai karpet dan menyediakan peralatan pel. Kalaulah bukan untuk kebaikan semuanya, Ayah ndak tega biarkan ibu bersusah payah melakukannya. Harapan Ayah hanya satu, semoga ikhtiyar ini menjadi wasilah kelancaran kelak.

Jam sebelas, Bunda berangkat ke kampus. Tidak ada yang aneh. Seperti biasa Bunda berangkat penuh semangat. Sedang Ayah asyik dengan Soniya.

Jam 13.47, terdengar bunyi getar hape di atas meja. Ayah biarkan, palingan sms-sms dari ufone. Lalu Asyik terhanyut dengan Soniya.

Jam 14.15, Sebelum mandi, ayah penasaran dengan isi hape kali aja ada sms penting. Ternyata ada sms dan miss call yang banyak dan diantaranya tanpa nama. Ayah tertegun sejenak baca sms Bunda yang tanpa diduga jauh jauh sebelumnya.

“A, air ketuban anie pecah, Anie diantar binta, bisharo, lubna dan sehrish ke shifa hospital.”

Ayah tersadarkan dengan panggilan di hape dan ternyata Binta mengabarkan mereka menunggu kedatangan Ayah.

Ayah pun menelpon Amu Hasan untuk telp teman Bunda yang dari Indonesia untuk menemani selama di Rumah sakit. Meski teman-teman Bunda yang foreigner ada dan mendampingi tapi Ayah kesulitan memahami apa yang terjadi.

Ayah bersegera mandi dan berkemas ke rumah sakit.

Setiba di Rumah Sakit, Ayah langsung menuju ruang Labor dan tampak beberapa teman Bunda menunggu di tangga.

Binta menceritakan bahwa Bunda sedang dalam kritis dan menunggu penanganan sesegera mungkin. Dan dokter menyarankan dalam waktu singkat ada keputusan akan dimana Bunda diproses.

Ayah pun bingung harus bagaimana bertindak. Om Hasan yang Ayah harap bisa jadi tempat berdiskusi masih ada di perjalanan. Semakin bingung, hape Ayah dan Bunda dalam kondisi kritis juga alias Lowbat. Tidak bisa diharapkan.

Beberapa yang Ayah temui dari pihak rumah sakit bilang biayanya cukup besar sekitar 15-25 ribu atau sekitar 1.5-2.5 juta rupiah dan menyarankan untuk pergi ketempat lain saja seperti PIMS (Rumah Sakit pemerintah) bahkan mungkin bisa gratis.

Sedikit berbedadari sebelumnya, pengurus Al-Falah Foundation bilang bahwa harga persalinan untuk bayi berkisar 10-12 ribu Rupees. Sedangkan persalinan operasi adalah 20 ribu.

Keduanya masih belum menenangkan. Dari mana Ayah harus dapatkan uang dalam waktu singkat. Masalahnya, baru semalem Ayah menyerahkan sejumlah uang untuk melunasi pembayaran sewa rumah.

Ayah teringat seseorang yang sudah lama tinggal di Islamabad dan ia menyarankan untuk mencoba ke klinik bersalin yang dekat dengan rumahnya.

Ayah kembali menemui teman-teman Bunda yang juga sama kebingungan menunggu keputusan Ayah. Masalahnya bagaimana mencari tahu alternative lain yang biayanya lebih rendah atau terjangkau.

Akhirnya, masing-masing menelpon kenalannya sekaligus mengkonfirmasi biaya persalinan termasuk operasi dan NICU.Ada yang hub Maryam Hospital, PIMS dan lain-lain. Lagi-lagi ndak puas.

Ayah kembali menyusuri lorong menuju Al-Falah Foundation. Dan menegaskan bahwa Ayah tidak punya alternatif dan bersedia membayar persalinan dan kebutuhan bayi setelah dikurangi bantuan dari Al-Falah.

Selepas Maghrib, dan dengan ditemani Om Iwan dan Amu Hasan, Ayah mendaftarkan Bunda di Assyifa dengan Financial Assistant dari Alfalah Foundation.

Ayah langsung pulang ke rumah mengambil pakaian Bunda. Tiba-tiba ada telp dari teman Bunda meminta Ayah segera kembali ke Rumah sakit.

Ternyata Ayah diminta persetujuannya sebelum BUnda masuk ke ruang operasi.

AqilaNICUshifaHospital03

AqilaNICUshifaHospital05

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s