Terdampar di Musim Dingin Pakistan

Tidak pernah sekalipun aku bermimpi sebelum ini untuk datang ke negeri ini. Sebuah negeri republik Islam yang kalau kita dengar di TV atau baca di media cetak tentu tidak lepas dari berita konflik dan perang. Serangan rudal dan bam bim bum di mana-mana. Sebuah negeri yang bahkan bahasanya pun tidak mudah untuk dimengerti. Akan tetapi kesamaan aqidah kemudian memudahkan kita untuk berbaur dan memahami apa yang ada di negeri ini.

Negara Republik Islam Pakistan, itu nama lengkapnya. Dengan bahasa nasional Bahasa Urdu dan bahasa kedua adalah Bahasa Inggris tidak begitu sulit untuk berkomunikasi dengan masyarakat terutama yang tinggal di ibukotanya, Islamabad, ini. Perbatasan di utara dan baratnya adalah dengan Iran dan Afghanistan (yuk mari… serem ga sih dengernya…), di sebelah timur dengan Cina dan selatan dengan India, saudara dekat tapi jauhnya Pakistan.

Bagaimana aku bisa terjerumus ke negara ini?

Well, ceritanya cukup mudah untuk dimengerti. Aku menikah dengan seorang pria Indonesia yang sedang studi S2 di sini. Suatu ketika suamiku itu pulang untuk mencari istri setelah sekian tahun tidak kembali ke tanah air Indonesia. Dia lebih memilih perempuan Indonesia dari pada perempuan Pakistan. Akan tetapi pencarian beberapa kali di Islamabad tidak memberikan hasil untuknya. 😀

Singkat cerita, menikahlah kami di Indonesia dan diboyonglah aku ke Pakistan.

Kesan pertama yang muncul ketika tiba di Islamabad tentu saja perbedaan suasana, budaya dan kebiasaan. Aku tiba di Islamabad pada bulan Desember 2010 dengan pesawat Thai Airways. Pertama kalinya aku naik pesawat dan itu adalah berangkat sendirian dari Indonesia ke Pakistan dengan transit di Thailand. Whew,,,

Bulan Desember adalah musim dingin (winter)di Islamabad, sehingga suamiku memang mewanti-wanti untuk mempersiapkan pakaian musim dingin untuk aku kenakan. Musim dingin di Islamabad memang tidak seperti yang disangka sebelumnya. Bayangan akan musim dingin pada mulanya adalah ‘salju’ di mana-mana seperti film-film Amerika atau Jepang yang pernah kutonton. Tapi musim dingin di Islamabad adalah musim dingin dengan suhu rendah dan kering. Saking keringnya, suhu dingin ini ditambah penggunaan air panas dan air dingin yang berubah secara drastis bisa menyebabkan kulit menjadi keriput dan pembuluh darah di punggung tangan bisa tiba-tiba pecah, sehingga punggung tangan luka-luka dan mengeluarkan darah. Perawatannya adalah dengan rajin-rajin menggunakan petroleum jelly dan membungkus tangan dengan sarung tangan.

Kesan tentang musim dingin ini memang cukup memberikan pelajaran buat kita orang Indonesia untuk bersyukur dengan kondisi negara di Indonesia yang perubahan suhunya tidak drastis dan cenderung stabil. Musim yang kita alami di Indonesia yang tropis hanya musim hujan dan musim panas. Sedangkan di Pakistan yang mengalami empat musim, perubahan suhu secara drastis cukup berat untuk dirasakan. Ditambah yang berubah juga adalah perubahan waktu siang dan malam yang sangat drastis antara musim dingin dan musim panas. Wheeewww,,, nggak kebayang teman-teman kita yang tinggal di Eropa, Amerika bagian utara, dsb. Pastinya kaget-kaget tubuhnya…

Di saat aku menulis ini, Pebruari 2012, adalah tahun ke-dua aku merasakan musim dingin di Pakistan. Tetap dengan suasana adaptasi yang terkaget-kaget, tanganku menjadi korban musim dingin berdarah-darah lagi. Mungkin karena kulit kemudian menjadi tipis, pembuluh darah pecah dan tiba-tiba saja ada luka-luka yang tidak diketahui dari mana asalnya. Kurang rajin pakai jellynya sih ya…

Ya… begitulah hidup musim dingin di negeri orang…

Bersama suami tersayang…

Dan dengan suasana membina rumah tangga secara mandiri.

Alhamdulillah… aku bersyukur Allah memberikanku kesempatan untuk belajar berumahtangga di negeri orang. Jadi, rasa tanggung jawabku sebagai istri dan rasa tanggung jawab suami juga semakin terasah. Tidak terbayangkan bagaimana jika kami tetap di Indonesia dan tinggal bersama orangtuaku atau bersama orangtua suamiku. Pastinya kami akan tetap merasakan ketergantungan…

Alhamdulillah…

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2: 216)

Islamabad, 1 Pebruari 2012

Indahnya Hidup jika Kita Selalu Bersyukur…

Jadikanlah aku bagian dari hamba-hambaMu yang selalu bersyukur, yaa Robb…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s